Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Dewi Sartika : Tokoh Wanita Inspiratif Asal Jawa Barat

Dewi Sartika (Sumber: wordpress.com)
Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.



Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.
Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Sumber: dari berbagai sumber, uniknya.com, April 2012

 

Biografi Sule - Sebuah Perjuangan Menuju Kesuksesan

Entis Sutisna atau lebih dikenal dengan nama Sule (lahir di Bandung, Jawa Barat, 15 November 1976; umur 34 tahun) adalah pemeran yang berawal dari Grup Lawak SOS, Audisi Pelawak TPI (API). Sule semakin dikenal via acara Opera Van Java di Trans7 . Karirnya semakin meningkat dengan acara Awas Ada Sule di Global TV yang dibintangi mantan pemain bola voli nasional, Hikmal Abrar. Selain melawak, alumnus STSI Bandung ini dikenal pintar menyanyi. Sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD, Sule sudah sering tampil di panggung tujuhbelas Agustusan, untuk menari.

“Sejak umur lima tahun kalau dengar musik jaipongan bawaannya selalu joget. Aku memang senang sekali menari,” cetus lelaki berambut gondrong dan pirang ini. Karena senang menari itulah, akhirnya orang tua mendaftarkannya ke sanggar Kandaga. “Mulai dari situ saya jadi sering dapat juara. Tidak hanya di Jawa Barat, tetapi juga sampai Jakarta,” ucap pria kelahiran Cimahi yang memiliki cita-cita menjadi pembawa acara berita ini. Seperti halnya Oni, teman satu kelompoknya, Sule juga sudah terbiasa mencari uang sejak kecil. Untuk urusan belajar, ternyata Sule paling malas sukanya menyontek.Hobi menarinya sempat terhenti ketika duduk di bangku SMP. Baru tumbuh lagi saat masuk SMKI , Sule mengakui setelah berjuang selama bertahun-tahun, sejak SMP, baru sekarang meneguk hasilnya. Dulu dia tinggal di rumah petak kontrakan. “Dulu, boro-boro buat beli baju, bayar rumah sama makan saja harus meminjam dari tetangga,” ujarnya. Hidup prihatin sempat dirasakan pria berambut pirang panjang ini. Orangtuanya adalah pedagang bakso di Cimahi, di malam hari Sule kecil membantu berjualan jagung rebus keliling kompleks.

Sule menikah dengan Lina (32), tahun 1997. Karena penghasilan dari melawak tidak menentu, mereka berdagang ayam goreng dan berjualan kebaya. “Penghasilannya cuma Rp20.000 sehari. Belanja sayur, sebagian lagi beras, sabun, dan untuk jajan anak, nggak cukup,” paparnya.
Bintang Sule baru bersinar ketika ia dan dua temannya, Ogi Suwarna dan Obin Wahyudin mengikuti audisi lawak API (Akademi Pelawak Indonesia) di TPI. Setahun kemudian, Sule menjuarai Superstar Show, sebuah acara duet selebriti di Indosiar, dan berhak membawa pulang sebuah mobil. Puncaknya ketika ia membintangi OVJ.
Karakter Pelawaknya Kuat
Sule tampak sebagai pelawak multi talenta lewat sebuah acara televisi (reality-show) SuperStar Show yang ditayangkan Indosiar, kira-kira 2 tahun yang lalu. Dalam acara berupa kontes nyanyi secara berpasangan tersebut, Sule akhirnya menjadi juara. Waktu itu dia berduet dengan Jaja.
Karakternya yang unik, multy-talented, dan humoris membuat duet Sule-Jaja dengan mudah disukai dan dikenal para pemirsa acara SuperStar. Ternyata terbukti kemudian. Terhitung semenjak usai menjuarai event SuperStar, Sule pun mulai sering tampil di layar kaca (televisi). Dari menjadi presenter (MC), bintang tamu talkshow, pengisi acara musik, hingga menjadi komedian/pelawak seperti saat ini.


Acara tv yang mempopulerkan Sule
Dari ranah komedi, nama Sutisna alias Sule sepanjang tahun ini merajai televisi. Selain tampil di acara komedi Opera Van Java (OVJ) di Trans 7, Sule juga memandu reality showBigShow di TPI. Jika tak syuting, Sule mengisi berbagai acara off air. Khusus untuk tahun 2009, saya amati Sule LARIS MANIS. Job yang diterimanya di dunia hiburan Indonesia tergolong cukup banyak. Anda yang sering nonton tv pada malam hari mungkin sudah tidak asing lagi dengan tampak dan tingkah lucunya. Acara tv yang bisa dibilang mempopulerkan Sule (selain SuperStar) yaitu OKB, Opera Van Java, dan Awas Ada Sule. Dua yang pertama tayang di Trans7. Sedangkan yang terakhir (Awas Ada Sule) ditayangkan di Global Tv. Jika anda penggemar acarakomedi atau sitkom, anda pasti sudah cukup familiar dengan ketiga acara itu.

Kelebihan Sule
Sule memang punya talenta tersendiri yang membuat ia layak disejajarkan dengan Tukul Arwana, Komeng, Eko Patrio, Parto, maupun Olga Syahputra yang sempat dinobatkan sebagai 5 Pelawak Termahal Indonesia). Yang patut diapresiasi, Sule juga bukan tergolong pelawak dadakan. Ia memang memulai merintis karier melawaknya dari NOL Popularitas yang dicapainya sekarang bukanlah secara instan, namun berkat kegigihan dan perjuangan. Di samping talenta unik yang memang dianugerahkan Yang Maha Kuasa padanya.

Seperti Komeng Sule punya kemampuan spontanitas lelucon yang tergolong sangat responsif, cepat, kreatif dan bagus. Dalam tampilan dipanggung juga punya kemampuan blocking yang lumayan. Sule termasuk salah satu peawak yang punya karakter melucu yang kuat dan unik
Bakat melawak Sule agaknya diturunkan sang ayah, yang penjual bakso keliling. Ayahnya selalu membanyol dan membuat para pembeli baksonya tertawa. Akan tetapi Sule mengawali naik panggung bukan dengan lawakan, melainkan sebagai pemain musik. “Tapi kok penonton malah bilang saya lucu. Eh, malah jadi lawak,” ujar Sule, yang kemudian mendirikan grup lawak SOS bersama Ogi dan Oni.

Setelah memenangkan audisi melawak di TPI, nama Sule pelan-pelan melejit. Tetapi baru di acara Superstar Show, nama Sule menanjak hingga sekarang. Meski sudah sangat terkenal, Sule masih memendam cita-cita. Dia ingin go international kendati tak bisa berbahasa Inggris.


Jutawan Sederhana
Kini kehidupan Sule berbeda. Ayah dari Rizki (12), Putri (8), dan Rizwan (2), ini memiliki lima rumah di Bandung dan Jakarta, dua mobil, serta dua sepeda motor. Kendati telah bergelimang harta, ternyata tak semua artis hidup bermewah-mewah. Pelawak Sule misalnya, yang mengaku ingin selalu hidup bersahaja.Kini, ayah tiga anak ini menerima bayaran Rp 4 juta untuk satu episode OVJ. Dengan perhitungan 6 episode setiap minggunya, Sule mengantongi lebih dari Rp 90 juta per bulan. Bulan Ramadan lalu menjadi momen paling menguntungkan bagi Sule. OVJ tayang dua kali sehari. Untuk acara OVJ sahur, pemain dibayar dobel. Alhasil, dalam sehari Sule bisa mengumpulkan Rp 12 juta. Itu belum termasuk honor presenter dan sebagainya. Jika dikalkulasi, lebih dari Rp 100 juta masuk ke rekening Sule setiap bulannya.

Uniknya, gelimang harta tak membuatnya silau. Mobil yang setiap hari mengantarnya syuting masih mobil yang sama dengan yang dipakainya empat tahun lalu, sebuah Suzuki APV.
Untuk investasi Sule lebih memilih mengoleksi rumah. Pria yang mempersunting Lina 12 tahun silam ini sudah memiliki empat rumah di Bandung yang digunakan sang istri sebagai tempat usaha. “Aku sudah punya salon, warnet, toko baju dan toko jual-beli ponsel. Sekarang mau bikin studio musik,” lanjutnya. Pria pencetus ucapan “prikitiw” itu tetap betah menempati tempat tinggalnya terdahulu, sebuah kamar kos di kawasan Jakarta Selatan.

Layaknya anak kos, sejumlah barang milik Sule tergolong sederhana. Kasur tipis, televisi 14 inci, tempat minum galon, dan lain sebagainya menghiasi kamar kos. “Itu jam dinding gua beli Rp 40 ribu,” ujar Sule sambil. Sebagai seorang pelawak, Sule memang tak ada matinya. Pria berambut kuning panjang itu selalu bercanda dan tertawa lepas. Saat berada di lokasi syuting, ia melakukan berbagai aksi jail seperti mengagetkan orang, menggoyang-goyangkan tangga, bahkan melempar sang penulis skenario ke kolam. “Hahaha, sini, sini,” kata Sule sambil menarik baju seorang kru film.

Solider Teman
Semakin terkenal, semakin tebal pula kantong Sule. Penghasilan ini bukan hanya untuk istri dan anak-anaknya, melainkan dibagi juga untuk adik-adiknya. Anak kedua dari empat bersaudara ini juga tidak segan membantu kedua temannya yang dulu sama-sama tergabung dalam grup lawak SOS. Bahkan, menurut Sule, tidak jarang secara diam-diam dia membantu Oni agar rekannya itu bisa mengisi sebuah acara di stasiun televisi. “Tidak hanya bantuan berupa materi saja tetapi juga membuka kesempatan bagi teman-teman saya agar bisa masuk dan terlibat dalam sebuah program acara. Alhamdulillah semuanya bisa terlaksana. Saya juga ingin membagi kebahagian kepada teman-teman saya,” bebernya


Sumber : kolom-biografi


Tokoh Kita: Tina Talisa, Terjerumus Di Dunia Jurnalistik

Jika anda rutin menonton berita tentu sudah tidak asing lagi dengan sosok cantik yang satu ini. Dia adalah Tina Talisa. Tina -begitu biasa disapa- merupakan presenter cantik yang wajahnya kerap wara-wiri tampil di acara Apa Kabar Indonesia Malam yg disiarkan TV One. Wanita kelahiran Bandung, Jawa Barat, 24 Desember 1979 ini pernah berprofesi sebagai dokter gigi. Pantas saja, sebab dia merupakan Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung pada tahun 2001, namun tidak menyelesaikan co-ass nya.

Mantan finalis Puteri Indonesia 2003 ini tidak hanya memiliki paras cantik dan tubuh yang ideal tetapi juga memiliki otak yang cemerlang. Di beberapa ajang kontes kecantikan pun dirinya kerap meraih gelar, sebut saja dan Juara I Mojang Kota Bandung 2002 dan Juara I Mojang Jawa Barat 2003.


Sebelum berkarir sebagai news presenter, awal ketertarikannya di dunia broadcasting adalah saat ia bekerja di Radio Paramuda dan Radio Mustika. Kemudian, Tina memutuskan untuk hijrah ke televisi swasta nasional. Tina selalu hadir setiap sore dalam Reportase Sore, program berita di Trans TV. Pada Juni 2007, ia pindah ke Lativi yang sejak tahun 2008 ini berubah menjadi stasiun TV dengan fokus berita dan olahraga dengan nama TV ONE sebagai asisten produser merangkap news presenter.

Kini, ia merupakan pembawa acara program Apa Kabar Indonesia Malam yang rutin bersiaran di Wisma Nusantara, kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Selain sibuk menjalani pekerjaan sebagai news presenter, Tina disibukkan dengan aktivitas pendidikan untuk menunjang pengetahuannya dibidang komunikasi. Tina Talisa sekarang kuliah di Program Magister Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung.

Tina mengaku menjadi jurnalis karena terjerumus. "Boleh dikata saya terjerumus tapi menyenangkan. Awalnya, orang tua menolak, sebab jadi dokter bisa menolong orang. Tapi akhirnya bisa paham pilihan jadi wartawan," kata Tina Talisa. Tina mengaku, sewaktu kecil dirinya bercita-cita menjadi seorang duta besar. Dalam benaknya, pekerjaan ini bisa bertemu banyak orang, lalu jalan-jalan ke luar negeri. Namun, dengan menekuni profesi sebagai jurnalis akhirnya mengantarnya bertemu bermacam orang.

Ya, cita-cita semasa kecil Tina akhirnya terwujud, ia dapat bertemu dan melakukan wawancara langsung dengan petinggi-petinggi negara, sebut saja Presiden Republik Indonesia, Wakil Presiden Republik Indonesia, Sejumlah anggota Kabinet Indonesia Bersatu dan Pimpinan Partai-partai Politik. Tina juga mendapat kesempatan terjun ke lapangan untuk melakukan peliputaan secara langsung baik dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya adalah Pemilihan Presiden (2004), Kunjungan Wakil Presiden RI ke Beijing, Republik Rakyat China (2005), Bencana tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (2004), Bencana tsunami di Pangandaran, Jawa Barat (2006), Siaga 1 Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta (2006), Pertemuan CEO Perusahaan-perusahaan Dunia (Forbes CEO Conference) di Singapura (2007), Pembukaan The Venetian Macau di Macau, China (2007), Konvensi Nasional Partai Demokrat di Denver, Colorado, Amerika Serikat (Agustus 2008), Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Oktober-November 2008), Pemilu 2009.

Selama perjalanan karir sebagai jurnalis, Tina tidak pernah menyesali telah meninggalkan dunia kedokteran gigi. "Saya tidak pernah menyesal meninggalkan dunia kedokteran gigi,” katanya tegas. Satu pesan yang dia ingat dari seniornya, "Jangan jadi wartawan karena ditolak di pekerjaan lain. Tapi menggeluti dunia ini memang karena panggilan hati." ujarnya.

Member Beswan mendapat kesempatan langsung untuk mengenal lebih dekat dengan sosok Tina Talisa yakni dengan cara tanya jawab melalui artikel tokoh kita. 10 penanya yang beruntung di pilih Tina akan mendapatkan sebuah buku berjudul "Pak Beye dan Istananya". Berikut adalah penanya yang beruntung beserta jawabannya.[Septian /Redaksi]

Gilang Jiwana Adikara : Salam sejahtera mbak Tina sebagai seorang pekerja pers, tentu mbak harus mengikuti kode etik jurnalistik. Dalam pasal 1 KEJ, disebutkan "Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk." Masalahnya, ideologi dan independensi seorang jurnalis terkadang harus berbenturan dengan kepentingan pemilik media, baik secara ekonomi maupun politis. nah, bagaimana mbak Tina sebagai jurnalis memandang pentingnya ideologi dan independensi jurnalistik dan bagaimana mbak Tina mempertahankan ideologi dan independensi dibawah tekanan kepentingan pemilik media?
Tina Talisa: Salam sejahtera Gilang. Kajian mengenai media, khususnya TV biasanya berkaitan dengan tiga hal : ownership (kepemilikan), content (isi program) dan audience (pemirsa). TV adalah institusi yang harus berpegang pada kepentingan publik tetapi sebagai industri juga harus menguntungkan. Yang paling ideal adalah jika idealisme dan komersialisme dapat beriringan. Idealisme yang dilawan dengan mengalahkan independensi akan merugikan institusi media itu sendiri karena kredibilitasnya akan menurun dan pada gilirannya akan menurunkan jumlah pemirsa. Padahal jumlah pemirsa menentukan rating yang menjadi acuan pemasang iklan dan pada gilirannya menghasilkan uang bagi keberlangsungan dan peningkatan
kualitas TV sebagai industri. Wakil pemimpin redaksi tvOne sering mengatakan : jangan jadi anak durhaka bagi pemilik, tapi yang paling penting adalah jangan khianati pemirsa. Sukses selalu ya :)

Rini Kuswardani : Salam kenal kak Tina, saya mau bertanya, siapa tokoh yang paling anda segani dan berpengaruh terhadap karier anda? kemudian bagaimana menurut anda menanggapi sikap presenter yang terlalu memojokkan narasumber? dan apakah ada kritik terhadap cara anda menjadi presenter selama ini? Dan bagaimana anda menyikapinya?
Tina Talisa: Salam kenal Rini. Saya mengidolakan ayah saya yang mengajarkan kesederhanaan dan ketekunan. Sikap presenter yang dianggap terlalu memojokkan narasumber tentu sebaiknya tidak terjadi, tetapi hal tersebut sangat relatif. Bisa saja menurut pemirsa terkesan sangat memojokkan tapi yang bersangkutan (narasumber) tidak merasa demikian atau sebaliknya. Jadi tolok ukurnya bisa sangat subjektif. Dalam teknik wawancara memang ada teknik "cornering" yang berasal dari kata "corner" atau sudut. Sederhananya pembawa acara menggiring narasumber semakin dalam dan itu hal yang wajar saja. Di stasiun televisi BBC ada program bernama Hard Talk yang sering menggunakan teknik cornering. Yang penting adalah pewawancara dan yang diwawancarai menjaga hubungan baik dan profesionalisme masing-masing. Saya juga seringkali menggunakan teknik tersebut. Itu adalah salah satu cara yang dipakai untuk memancing narasumber mempertahankan argumentasi atau membantah. Sekali lagi itu wajar dilakukan dalam talkshow yang formatnya adalah exchange of ideas atau pertukaran gagasan. Yang perlu dijaga adalah sopan santun dan memastikan pada narasumber bahwa yang saya lakukan di layar adalah pekerjaan, di luar itu saya berhubungan baik dengan beliau-beliau bahkan beberapa diantaranya menjadi sahabat saya. Begitu pula kalau pemirsa melihat perdebatan sengit antara narasumber, itu tidak berarti permusuhan. Para narasumber berkomunikasi seperti biasa kembali setelah perdebatan usai. Kritik bagi saya adalah hal yang mutlak harus diterima dan bahkan dibutuhkan. Bahwa terkadang ada yang membuat tidak nyaman juga tidak bisa saya pungkiri, tapi bukan substansinya yang membuat tidak nyaman melainkan caranya. Saya sangat terbuka pada kritik dan memang saya sadari saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Itu menjadi bagian dari konsekuensi profesi saya. Salam hangat :)

Cahya Kharisma : Dear Tina Talisa, Ada sebuah pernyataan bahwa "Untuk menjadi News Presenter, syarat utama yang harus dipenuhi selain berwawasan luas adalah berpenampilan menarik, dan dalam hal Ini sering di artikan 'Berparas cantik atau rupawan'(dalam tanda kutip)". Yang saya Ingin tanyakan adalah : 1. Bagaimana Pendapat anda mengenai hal Tersebut? dan setujukah anda?. 2. Jika anda terlahir tidak berparas cantik dan menarik Apakah anda akan tetap "Memilih, dan Dipilih".. untuk Menjadi News Presenter. Mohon maaf sebelumnya jika Pertanyaan saya ini dirasa kurang berkenan. Sebuah kehormatan bagi saya, diberi kesempatan untuk bertanya kepada salah satu Presenter yang saya Idolakan selama ini. Terimakasih,Maju Terus Jurnalisme Indonesia.
Tina Talisa: Dear Cahya Kharisma, terima kasih untuk pertanyaannya. Saya sering sekali mendapat pertanyaan ini kalau diundang diskusi atau seminar tentang news presenter dan saya selalu senang menjawabnya. Penampilan itu penting tapi bukan hal terpenting karena yang terpenting dari seorang news presenter adalah kredibilitas. Saya sering bertanya seperti ini kepada peserta diskusi atau seminar : lebih cantik Rosiana Silalahi atau Dian Sastro? Hampir serempak semua menjawab Dian Sastro dengan lugas, apalagi kaum Adam. Pertanyaan saya berikutnya : siapa yang teman-teman anggap lebih kredibel membawakan berita, Rosiana Silalahi atau Dian Sastro? Jawaban biasanya lagi-lagi kompak, yaitu Rosiana Silalahi. Poin saya, ternyata nilai jual utama news presenter adalah kredibilitas, bukan penampilan fisik. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa penampilan adalah nilai tambah dan wajar jika pemirsa juga menyenangi jika nilai tambah itu dimiliki oleh seorang news presenter yang kredibel dan berkualitas. Mengenai akankah saya dipilih menjadi news presenter jika tidak terlahir seperti saya adanya sekarang, pertanyaannya lebih tepat diajukan kepada yang memilih saya kelihatannya. Kalau soal "memilih", saya akan tetap berusaha menjadi jurnalis TV dan sekali lagi mengenai dipilih atau tidak, tentu haknya yang memilih untuk menjawab. Salam hangat :)

Sri Yuniar:
bismillah. assalamu'alaikum kak. Saya Yuni beswan Aceh. Saya sangat tertarik dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan ekonomi dan masalah sosial. Saya sempat beberapa kali mengikuti pelatihan jurnalistik, sempat bergabung di radio, dan suka menulis. Akan tetapi saya adalah orang yang cukup emosional, sehingga terkadang saya kesulitan untuk menata bahasa dalam menulis atau berbicara, paling tidak saya butuh waktu lebih lama untuk mengkonsep bahasa jika ada hal2 yang cukup melibatkan emosi, bagaimana sih kak agar kita dapat memandang segala sesuatunya secara objektif dan tenang? serta sikap dan persiapan apakah yang paling diperlukan ketika kita sedang melakukan wawancara dengan tokoh2 terkemuka yang sangat mapan pengetahuannya?. terimakasih kak. wassalam :)
Tina Talisa: Wa'alaikumsalam Yuni. Saya senang kalau makin banyak jurnalis muda penuh semangat seperti Yuni. Persiapan yang paling penting sebelum wawancara adalah penguasaan materi tentang topik yang akan dibahas. Saya sering mengibaratkan jika akan mewawancarai itu seperti akan berperang dan senjatanya adalah isi kepala kita yang sudah dipenuhi pengetahuan soal materi wawancara. Kita bukan menjadi lebih tahu dari yang diwawancarai, tetapi paham apa yang perlu diketahui publik sehingga itulah yang ditanyakan kepada narasumber karena pada prinsipnya kita adalah perpanjangan tangan publik yang membutuhkan informasi. Sikap yang perlu disiapkan adalah percaya diri, santun dan egaliter. Kesopansantunan bukan berarti kemudian kita seperti "takut" kepada narasumber, kita harus menempatkan diri sejajar atau egaliter dengan yang diwawancarai tapi penuh rasa hormat. Terus semangat ya! :) M.Nurul Ikhsan : Republik Indonesia tercinta dalam dilema. Gejala kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia belum juga teratasi. Banyak anak-anak busung lapar di daerah terpencil, baik yang sempat disiarkan lewat pertelevisian maupun yang belum tersentuh sama sekali. Tidak berhenti disitu. Ditengah kesengsaraan masyarakat itu, para wakil rakyat malah memperlihatkan prilaku yang sebaliknya,melakukan tindak pidana korupsi, menghambur-hamburkan uang rakyat, bahkan mengambil gaji yang sebesar- besarnya dari negara. Sungguh ironis.Tentu, sebagai pemuda yang menjadi harapan akan perbaikan Republik Indonesia di masa depan harus berpikir keras dalam memajukan republik ini dari keterpurukan tersebut. Perlu adanya komitmen dalam diri setiap individu untuk menjawab tantangan tersebut. Menurut mbak Tina Talisa, yang memiliki pengetahuan banyak persoalan republik ini, komitmen seperti apakah yang seharusnya ditanamkan dalam diri setiap pemuda untuk mencerahkan republik tercinta di masa depan?
Tina Talisa: Ihsan, menurut saya setiap pemuda Indonesia harus memiliki semangat untuk menjadi pemimpin inspiratif yang menggerakkan lingkungan sekitarnya. Bukan pemimpin dalam artian yang terbatas pada struktur organisasi tertentu, melainkan pemimpin dari sisi nilai dan semangat. Saya senang dengan pernyataan yang pernah disampaikan mantan presiden AS John Quincy Adams yaitu "If your actions make others dream more, learn more, do more and become more, you are a leader". Saya berharap setiap pemuda Indonesia berlomba melakukan tindakan-tindakan yang menginspirasi orang-orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, berbuat lebih dan menjadi lebih baik di bidang apapun. Semoga kita menjadi pemimpin inspiratif tersebut. Salam cinta Indonesia! :)

Paulina Sie: Halo,Mba Tina.^^ Saya Paulina, dari Univ. Lampung. Pada kesempatan yang luar biasa ini, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Mba. Saya pernah membaca sebuah artikel dari seorang pengamat perkembangan dunia radio dan televisi Indonesia, yang juga merupakan pensiunan dari presenter salah satu stasiun TV di Indonesia..Walaupun ada beberapa kelebihan yang disebutkan di dalamnya, namun beberapa bagian artikel tersebut mengungkapkan sejumlah kritik untuk presenter berita aktual masa kini. Beliau mengungkapkan beberapa kelemahan, di antaranya: Masih sering ditemukan adanya presenter yang hanya bermodalkan fisik (paras dan suara yang "indah"), padahal belum tentu berita yang disampaikannya dapat benar2 diterima oleh pemirsa. Masih banyak reporter lapangan yang terkesan kaku dan berbicara tersendat-sendat. > Bahasa yang tidak baku sering digunakan. Pewawancara (interviewer) terkadang berbicara lebih banyak daripada narasumber, atau terkadang memotong pembicaraan dari si narasumber. Nah, bagaimana tanggapan Mba Tina mengenai hal tersebut? Lalu, dari Mba Tina sendiri, kira-kira topik apa yang paling disukai?(politik,hukum, sosial & budaya, atau yang lain?) Dan apa alasannya? Ohya, sebelumnya saya ada sebuah kalimat (saya temukan dari sebuah buku), yang menurut saya bagus untuk seorang presenter seperti Mba...^^ "GOOD COMMUNICATION OCCURS WHEN LISTENER OR VIEWER RECEIVES AN UNDISTORTED AND EFFECTIVE IMPRESSION OF THE IDEAS OF THE WRITER OR OF THE AD LIB SPEAKER, WITH PROPER EMPHASIS ON EACH OF THE PARTS THAT MAKE UP THE WHOLE." Terima kasih,Mba...Sukses selalu untuk kita semua...GbU..^^
Tina Talisa: Hai Paulina, terima kasih banyak pertanyaannya ya. Saya meyakini penampilan fisik bagi seorang news presenter adalah nilai tambah, bukan hal utama karena yang menjadi tolok ukur utama news preenter adalah kredibilitas. Penampilan tidak bisa dinafikan juga penting, tapi sekali lagi bukan yang terpenting. Mengenai reporter yang masih belum maksimal menyampaikan reportase tentu menjadi masukan untuk terus meningkatkan kualitas. Dalam memandu wawancara, kesempatan berbicara tentu seharusnya lebih banyak narasumber daripada presenter. Terkait dengan memotong pembicaraan narasumber, berdasarkan pengalaman saya hal tersebut biasanya dilakukan jika : 1) narasumber berbicara berbelit-belit secara sengaja atau tidak sengaja padahal ada narasumber lain yang juga perlu diberi kesempatan berbicara; 2) waktu yang memang terbatas. Tentu menjadi pembelajaran, baik bagi pewawancara maupun narasumber untuk memainkan peran dan berbicara substantif dalam durasi yang sudah ditentukan dan terbatas di televisi. Saya paling tertarik dengan isu politik. Terima kasih kutipan kalimatnya ya. Semoga saya bisa menjadi jurnalis yang lebih baik. Salam hangat :)

Afroh Manshur : Selamat malam dan mohon maaf, sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan saya tidak ada hubungan dengan pribadi anda dan mungkin terkesan "OFFENSE". ADa beberapa hal yang perlu saya tanyakan: 1. Apakah pemilik Stasiun televisi dapat mendikte tayangan yang ditampilkan? 2. Mengenai TV One, mengapa banyak berita yang ditayangkan selalu berulang-ulang? 3. Bukankah dalam pemberitaan harus ada keseimbangan, tetapi mengapa dalam beberapa stasiun televisi "terkesan" memberatkan salah satu kubu? Mohon maaf jika memang dirasa tidak patut dijawab silakan saja CMIWW terima kasih Best Regard AFROH MANSHUR
Tina Talisa: Halo Afroh. Jika pemilik stasiun televisi mendikte tayangan yang ditampilkan, maka kerugian akan dirasakan oleh si pemilik TV itu sendiri. Media massa harus independen, bukan netral. Saya tegaskan bukan netral ya karena jika netral maka media massa tidak memiliki sikap. Media massa harus bersikap dengan intervensi seminimal mungkin dan berpihak pada kebenaran seperti yang diajarkan oleh Bill Kovach dalam prinsip-prinsip jurnalisme. Kajian mengenai media, khususnya TV biasanya berkaitan dengan tiga hal : ownership (kepemilikan), content (isi program) dan audience (pemirsa). TV adalah institusi yang harus berpegang pada kebenaran untuk kepentingan publik tetapi sebagai industri juga harus menguntungkan. Yang paling ideal adalah jika idealisme dan komersialisme dapat beriringan. Idealisme yang dilawan dengan mengalahkan independensi akan merugikan institusi media itu sendiri karena kredibilitasnya akan menurun dan pada gilirannya akan menurunkan jumlah pemirsa. Padahal jumlah pemirsa menentukan rating yang menjadi acuan pemasang iklan dan pada gilirannya menghasilkan uang bagi keberlangsungan dan peningkatan kualitas TV sebagai industri. Wakil pemimpin redaksi tvOne sering mengatakan : jangan jadi anak durhaka bagi pemilik, tapi yang paling penting adalah jangan khianati pemirsa.Mengenai tayangan yang diulang-ulang, Afroh bisa coba menyaksikan stasiun televisi berjaringan internasional seperti CNN dan BBC.Penayangan ulang berita-beritanya jauh lebih sering dibandingkan tvOne dan stasiun-stasiun televisi lain di Indonesia. Yang pasti tidak ada aturan hukum yang dilanggar oleh tvOne jika menayangkan gambar berulang-ulang, tidak ada halal atau haram soal itu. Apalagi jika menggunakan asumsi tidak semua orang menyaksikan televisi sehari penuh, maka bisa saja ada yang menonton televisi pagi hari, tapi tidak di malam hari, demikian sebaliknya, sehingga bagi mereka gambar tidak dirasa diulang-ulang. Pemberitaan sejatinya memberikan kesempatan kepada semua pihak dengan porsi yang setara sehingga biarkan publik yang menilai dan menentukan sikap mereka. Mengenai keberpihakan dalam kasus tertentu, saya perlu menggambarkan bagaimana televisi di Amerika Serikat secara terbuka menunjukkan keberpihakannya seperti saat pemilihan presiden tahun 2008 lalu. Salam hangat :)

Feby Tubagus Priyatna : Salam hangat dan salam kenal mbak Tina. Saya Feby beswan Djarum angkatan 25 dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sebelumnya mungkin mbak sudah banyak cerita tentang mbak, karena mbak ini sudah 2 kali mengisi acara di UIN Bandung (Mudah-mudahan mbak masih ingat. hehe..). Ada beberapa pertanyaan mbak yang ingin saya tanyakan. Mbak Tina ini kan basic akademiknya di Kedokteran gigi, kenapa sih mbak bisa berminat beralih profesi menjadi presenter TV? apakah profesi dokter gigi digeluti atau tidak oleh mbak? klo digeluti bagaimana cara membagi waktunya? sedangkan seorang presenter TV harus siap diterjukan dilokasi peliputan manapun. Selanjutnya, di TV itu saya lihat Mbak sangat tegas dan tajam dalam menggali informasi dari narasumber, mulai dari politikus, dll. Bagaimana sih mbak cara menjaga citra mbak pribadi dan perusahaan tempat mbak bekerja (TV One) dengan para narasumber agar tetap terjalin baik? Mungkin cukup segitu mbak pertanyaannya. Terima kasih mbak atas jawabannya. Oh iya, kapan nih mbak ngisi acara di UIN Bandung lagi?  ditunggu ya mbak. hehehe...terima kasih mbak dan beswan djarum/djarum beasiswa plus.
Tina Talisa: Salam kenal juga Feby. Saya memang tidak pernah bercita-cita jadi jurnalis awalnya. Saya tidak menyelesaikan pendidikan Profesi Kedokteran Gigi atau biasa disebut ko-ass di Unpad karena saya sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya mantap pada pilihan di dunia jurnalistik. Saya sempat ragu di tahun pertama bekerja sebagai jurnalis (saat itu masih di Trans TV). Saya cuti selama setahun dari dunia kedokteran gigi dan akhirnya menentukan sikap meninggalkannya secara permanen dengan dua pertimbangan : passion dan kontribusi. Saya merasa passion (hasrat) saya di bidang jurnalistik dan saya yakin bisa memberikan kontribusi optimal melalui bidang ini dengan potensi yang dimiliki. Saya selalu berusaha menjaga profesionalisme saya sebagai jurnalis, baik sebagai individu maupun atas nama institusi. Di luar layar televisi ketika tidak mewawancarai para narasumber, saya upayakan menjaga silaturahmi dengan mereka di kesempatan lain, baik itu hanya bertanya kabar atau berdiskusi soal hal-hal yang sedang ramai menjadi pemberitaan. Saya bahkan menjadi bersahabat baik dengan sejumlah narasumber tetapi mereka menghargai profesionalisme saya, sehingga tidak pernah mengintervensi saya untuk tidak kritis atau tajam bertanya saat melakukan wawancara. Semoga saya bisa datang lagi ke UIN Bandung ya. Salam hangat :)

Muhammad Ilyas : hai, mbak tina yang cantik!!! apa mimpi terbesar anda dalam hidup ini??? makasih ya... "tetap di apa kabar indonesia malam" hihi...
Tina Talisa: Hai Muhammad Ilyas. Mimpi terbesar saya adalah menjadi manusia yang bermanfaat dan terus-menerus memperbesar manfaat diri saya untuk orang lain. Salam hangat.

Irwan Sitinjak : well, this is the next journalist profile by the way. I'm Glad :D Dunia jurnalistik semakin menunjukkan perkembangannya secara dramatis. Mulai dari nilai berita yang melekat di setiap pemberitaan maupun peliputan hingga orang yang memberitakannya (as known as JURNALIS). Belakangan, jika kita lihat realita media secara objektif (hal ini termasuk dalam elemen jurnalisme kontemporer dan bahasa berita yang saya pelajari), tak jarang tampak unsur kepentingan dan kepemilikan media turut ambil bagian dalam proses penyajian berita.Mulai dari peliputan atau pencarian berita, pelaporan, dan penyajian berita. Nah, sejak anda menjadi seorang jurnalis, bagaimana sikap anda dalam mengimbangi ideologi media (termasuk pemilik)dan ideologi anda yang saya yakin sesuai dengan fungsi media sebagai kontrol sosial serta apakah anda setuju jika ada sebuah UU yang mengatur pendirian media (yg di Indonesia sangat gampang skrng ini, you have money, you're gonna make it) untuk memperbaiki etika media yang tahun 2010 di nilai sejumlah praktisi mengalami penurunan. Dan satu lagi (sebenarnya banyak ;p), bagaimana pendapat anda tentang jurnalis amplop ? Thank's and keep on moving :) Warm regards, Irwan, Beswan DSO Medan

Tina Talisa: Irwan, terima kasih pertanyaannya ya. Menurut saya kita perlu mensyukuri kebebasan pers yang kita nikmati di era demokrasi saat ini meski tentu perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan terus-menerus agar semakin berkualitas. Saya sepakat dengan pendirian media massa yang mudah karena saya yakin masyarakat Indonesia semakin cerdas, bahkan kalangan menengah ke bawah. Media massa akan melalui seleksi alam. Jika tidak berkualitas maka lambat laun akan mati dengan sendirinya. Kita ingat di awal reformasi betapa suburnya perkembangan kuantitas media cetak, tetapi kita saksikan sendiri sekarang tidak sampai separuhnya yang bisa bertahan. Semuanya karena seleksi alam. Publik tidak bisa "dibeli" untuk mempercayai sebuah institusi media. Kredibilitas menjadi pertaruhan bagi media massa jika ingin bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat. Saya sangat tidak sepakat dengan jurnalis amplop karena menggadaikan profesionalisme. Salam hangat :)

Sumber : djarumbeasiswaplus.org


Agum Gumelar

Berkas:Agum gumelar.jpgJenderal TNI (Purn) Agum Gumelar[1] (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 17 Desember1945; umur 66 tahun) adalah mantan Menteri Perhubungan pada Kabinet Gotong Royong. Ia adalah lulusan tahun 1969 dari Akademi Militer NasionalMagelang.

Dalam Pilpres 2004, dia dicalonkan oleh PPP sebagai calon wakil presiden sama Hamzah Haz sebagai calon presiden, di putaran pertama, pasangan itu meraih 3,01% dari total jumlah suara.

Dia juga mencalonkan diri dalam Pilkada DKI 2007[2]

Pada tahun 1998, ia mendapat gelar master dari American World University, salah satu organisasi yang dilarang beroperasi oleh Dikti Depdiknas pada tahun 2005 karena melakukan tindakan jual gelar. Ia juga menjabat sebagai Gubernur Lemhanas periode 1998 - 1999.

Tahun 2008, Agum dicalonkan PDIP menjadi Gubernur Jawa Barat berpasangan dengan Nu'man Abdul Hakim, namun berakhir dengan kegagalan. Agum Gumelar juga menjabat sebagai Honorary Chairman Media Nusantara Citra.

Pada tahun 2011, Agum Gumelar ditunjuk oleh FIFA sebagai Ketua Komite Normalisiasi untuk mengatasi kisruh dalam tubuh PSSI.[3]

Karier

  • 2011: Ketua Komite Normalisasi PSSI
  • 2003-2007: Ketua Umum KONI Pusat
  • 2001-2004: Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong
  • 2001: Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan Kabinet Persatuan Nasional
  • 1999-2003: Ketua Umum PSSI
  • 1999-2000: Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi Kabinet Persatuan Nasional
  • 1999-2000: Menteri Perhubungan Kabinet Persatuan Nasional
  • 1998-1999: Gubernur Lemhannas
 

 

 

Abdullah Gymnastiar

Yan Gymnastiar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 29 Januari 1962; umur 50 tahun) atau lebih dikenal sebagai Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym adalah seorang pendakwah, penyanyi, penulis buku dan penerbit, pengusaha dan pendiri Pondok Pesantren Darut Tauhid di Jalan Gegerkalong Girang, Bandung. Aa Gym menjadi populer karena mengenalkan cara berdakwah yang unik dengan gaya teatrikal dengan pesan-pesan dakwah Islami yang praktis dan umum diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Pesan-pesan dakwahnya berkisar pada pengendalian diri, hati nurani, toleransi dan keteguhan iman. Aa Gym digemari oleh ibu-ibu rumah tangga karena ia membangun citra sebagai sosok pemuka agama yang berbeda dengan ulama lainnya. Ketika para ulama “konvensional” berdakwah tentang keutamaan salat, puasa, dan kemegahan surga, Aa Gym memilih untuk bercerita tentang pentingnya hati yang tulus, keluarga yang sakinah dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan. Topik pembahasannya seputar keluarga dan pemirsanya terkonsentrasi pada ibu-ibu rumah tangga, citranya pun didaulat menjadi “ustad keluarga bahagia.” Hal ini menjadi kontroversial ketika media mengumumkan Aa Gym berpoligami dan menikah lagi dengan Alfarini Eridani atau dikenal juga dengan sebutan "Teh Rini" pada bulan Desember 2006, saat itu istri pertamanya adalah Hj Ninih Muthmainnah atau dikenal juga dengan sebutan "Teh Ninih", yang telah menjadi istrinya sejak tahun 1988 dan selama menikah dengannya telah dikaruniai tujuh anak. Banyak penggemarnya kecewa dan mengirim SMS berantai, menulis di blog dan Surat Pembaca, menelepon ke stasiun TV, berhenti berkunjung ke Daarut Tauhid, hingga ikut turun jalan dan berdemo menentang poligami. Hal ini berdampak pada kepopulerannya dan bisnisnya.

Perjalanan karier, dakwah, bisnis dan popularitas

  • Lahir sebagai salah satu anak dari empat bersaudara Aa Gym telah menekuni banyak hal mulai dari menjual koran hingga menyetir angkutan umum [5] untuk membiayai dirinya saat dan setelah bersekolah di teknik elektro sebelum berubah haluan menjadi wirausahwan. Kemampuannya tampil di depan publik juga diasah saat menjadi pendebat di universitasnya. [2]
  • Pada tahun 1980'an, di bawah bimbingan ajengan Junaedi di Garut, Jawa Barat mendalami pemahaman spiritual ilmu laduni (ilmu tanpa melalui proses belajar).
  • Pada 1982, ia menjadi Komandan Resimen Mahasiswa di Akademi Teknik Jenderal Achmad Yani.
  • Pada tahun 1987, ia bersama teman-temannya melalui lembaga Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta (KMIW) merintis usaha wiraswasta pada bidang usaha kecil seperti pembuatan stiker, kaos, gantungan kunci, dan peralatan tulis kantor dengan slogan-slogan religius.[1]
  • Pada tahun 1990, KMIW mendirikan Pondok Pesantren Darut Tauhid (DT) di rumah orang tua Aa Gym yang kemudian pindah lokasi ke Jalan Gegerkalong Girang 38 yang awalnya berupa rumah pondokan dengan 20 kamar yang akhirnya dibeli angsung dari pemiliknya dengan harga Rp 100 juta. Ide pembentukan DT terilhami oleh keberhasilan gerakan Al-Arqom dari Malaysia yang sukses mengembangkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari secara Islami. Dengan perbedaannya DT tidak bersifat eksklusif seperti Al-Arqom tetapi terbuka untuk semua orang.[1]
  • Pada tahun 1993, Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid dibangun menjadi gedung permanen berlantai tiga. Lantai satu digunakan untuk kegiatan perekonomian, lantai dua dan tiga dijadikan masjid. Pada 1994, didirikan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) DT untuk menopang dakwahnya. Pada 1995 sekitar 50 meter dari masjid, seorang jemaah membelikan sebidang tanah berikut bangunannya di Jalan Gegerkalong Girang 30 D yang kemudian digunakan sebagai kantor yayasan, kediaman pemimpin pondok, Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), ruang pertemuan, ruang produksi konveksi, gudang, dan kamar para santri. Pada akhir tahun 1997 Gedung Kopontren empat lantai di seberang masjid ini digunakan untuk kantor Baitul Mal wat-Tamwil (BMT), penerbitan dan percetakan, swalayan dan mini market, warung telekomunikasi, dan lainnya.
  • Pada tahun 1999, DT berhasil memiliki Radio Ummat yang mengudara sejak 9 Desember 1999, mendirikan CV House and Building (HNB), PT MQs (Mutiata Qolbun Salim), PT Tabloid MQ, Asrama Daarul Muthmainnah 2000, Radio Bening Hati, dan membangun Gedung Serba Guna, seluruh aset ini diperkirakan bernilai 6 miliar rupiah.[1]
  • Pada tahun 2000, Aa Gym mulai tampil berdakwah di TV Nasional. [2] Ia menjadi salah satu pengisi acara tetap dalam program Hikmah Fajar di RCTI. Pada tahun 2001, Aa Gym memiliki program mandiri di bawah rangkaian program Hikmah Fajar berjudul "Manajemen Qolbu".
  • Pada tahun 2002, Aa Gym telah memiliki 15 usaha penerbitan yang telah menerbitkan 32 judul buku dan lusinan kaset serta VCDnya sebagai media menyebarkan dakwahnya. Aa Gym tercatat menerima 1.200 undangan untuk menjadi pembicara setiap bulannya. Tarif siarnya untuk berdakwah bisa mencapai USD 100.000 per jam pada bulan Ramadhan, dan penampilannya menjadi rebutan stasiun-stasiun TV. Usaha lainnya yang ia miliki adalah penyiaran radio, studio mini televisi, dan usaha media lainnya termasuk kantor situs-situs web, koperasi supermarket, mesjid dan pesantren berkapasitas 500 santri, dua panti asuhan, rumah persinggahan untuk menampung pengunjung yang datang, serta penyelenggaraan seminar-seminar pelatihan manajemen yang tarifnya mencapai USD 200 per kepala. Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal menjulukinya "Layaknya Britney Spears dalam Islam," , Majalah Time mempertanyakan apakah ia hanya pedagang yang menggunakan agama sebagai alat untuk menarik keuntungan, dan Solahuddin Wahid dari NU berpendapat bahwa kekuatan Aa Gym terletak pada ketulusannya.[2]

Kontroversi BBM

  • Pada Oktober 2005, Aa Gym tampil mengajak rakyat agar bersabar dalam iklan layanan masyarakat tentang kenaikan BBM yang dimotori oleh Depkominfo. Penampilannya ini di protes oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Perhimpunan Pelajar Islam (PPI) karena dianggap menyesatkan rakyat agar menerima kenaikan BBM [6]. Organisasi ini mensomasi Aa Gym dan menuntut agar iklan layanan masyarakat tersebut berhenti ditayangkan.

Kontroversi Poligami

  • Pada Desember 2006, Aa Gym mengadakan jumpa pers yang mengumumkan bahwa dia berpoligami dengan janda beranak tiga yang juga berprofesi sebagai mantan model, Alfarini Eridani, sebagai istri keduanya [7] [8], ia menyatakan bahwa poligami ini ia lakukan sebagai jalan keluar darurat (emergency exit) [9]. Hal ini kemudian dijadikan bahan olok-olok karena istri keduanya yang cantik tidak tampak sebagai jalan keluar darurat [10]. Sehari setelah jumpa pers diadakan, mulai terjadi boikot lewat SMS oleh publik yang berisi kutipan dakwah Aa Gym yang tidak menganjurkan poligami, saat sang pendakwah melakukan sebaliknya. Walaupun begitu para humas MQ berkata bahwa kejadian tersebut tidak memengaruhi permintaan menjadi pembicara maupun bisnis [11]. Pernyataan Aa Gym terkait dengan hujan SMS kepada dirinya yaitu kekagetannya apabila ibu-ibu marah "ngomongnya jorok" [12]. Masih pada bulan yang sama pengajian Aa Gym mulai sepi pengunjung, masjid berlantai dua yang biasa penuh hanya terisi sebagian, bahkan lantai duanya hanya terisi sekitar 10 persen [13].
  • Pada Mei 2007, karena aktivitas kunjungan pada Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang terus berkurang sejak 2006 [14] maka ponpres ini mulai mengurangi karyawannya. Kunjungan menyusut hingga 70 persen dan berpengaruh pada biaya operasional. Sebanyak 300 karyawan yang berstatus kerja lepas dan tetap terkena perampingan, total sekitar 40 persen dari karyawan dirumahkan [15] [16]. Pada Juli 2007, menurut pengamatan Jawa Pos kapasitas tiga perempat penuh dan sedikitnya jamaah wanita untuk akhir minggu jelas merupakan kondisi yang menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Tidak hanya jumlah pengunjung yang menurun, omzet sejumlah unit usaha yang dikembangkan Daarut Tauhid juga berkurang. Salah satu bisnis yang animonya tetap tinggi adalah umrah bersama Aa Gym yang diminati 387 orang pada 3 April 2007, keberangkatan ke Tanah Suci bersama Aa Gym dan Teh Nini. Menurut Wakil Komisaris Bisnis MQ Group Darmawan Sunarja ini dikarenakan materi tausyiah Aa Gym yang tetap diminati [17]. Namun bisnis lain yang omsetnya menurun diantaranya adalah; air dalam kemasan bermerek MQ (Manajamen Qalbu) Jernih menurun 70 persen dengan dibatalkannya langganan oleh ibu PKK, Bhayangkari, dan lainnya; MQ-TV sebagai saluran TV lokal Kota Bandung dan menawarkan program ke sejumlah televisi nasional juga terkena imbasnya; infak dan sedekah Masjid Daarut Tauhid yang dikelola Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga sempat anjlok, sebelumnya pemasukan setiap bulan selalu melampaui Rp 50 juta, sejak Januari 2007 jumlah itu merosot menjadi Rp 27 juta dan terus turun menjadi Rp 25 juta pada Februari, Maret Rp 34 juta, April Rp 29 juta, dan Mei Rp 41 juta [18].
  • Pada Desember 2007, Aa Gym muncul untuk pertama kalinya pada acara wawancara Kick Andy di Metro TV setelah absen akibat kontroversi poligami. Ia merasa berat tampil di media massa karena berpendapat bahwa ia telah didzolimi oleh pers setelah berpoligami, walaupun akhirnya menyanggupi hadir pada wawancara ini dan dipertemukan dengan "Aa Jimmy" versi komedi dari Aa Gym yang mengisi kekosongan Aa Gym di media saat ia absen. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa ia tega menyakiti hati istri dan keluarga dengan kawin lagi, perasaannya 'ditinggal' oleh para pengagumnya, hingga isu bisnisnya hancur setelah berpoligami. [19].
  • Pada Maret 2008, rumah tangga Aa Gym dikabarkan retak karena kedua istrinya ribut dan Aa Gym pisah rumah dengan istri pertamanya, namun hal ini dibantah dan Aa Gym mengaku bahwa rumah tangganya rukun-rukun saja [20]. Aa Gym pun emosi dan berkata bahwa wartawan memakan gaji haram dan memperingatkan agar mereka menghormati hak-hak pribadi orang saat bertugas [21]
  • Pada Desember 2010, istri pertama Aa Gym telah menggugat cerai di pengadilan agama [22] 

Pendidikan

  • D-3 PAAP (Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan) Unpad.[1]
  • PTKSI Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jurusan Teknik Elektro [23]
  • Fakultas Teknik Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Bandung. [23]
  • Pendidikan keagamaan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Manjonjaya, Tasikmalaya. [23]
 Hobi
  • Mengikuti pelajaran menjadi pilot dengan memasang pemutar DVD seharga USD 2,000 pada salah satu mobilnya sehingga ia dapat menonton pelajaran-pelajaran terbangnya.[2]
  • Mengendarai motor besar Kawasaki Eliminator hitamnya. [2]
  • Menyelam, menembak, terjun payung, menyanyi lagu country, dan berkuda [24]

Publikasi buku

  • Aa Gym dan fenomena Daarut Tauhid: Memperbaiki Diri Lewat Manajemen Qalbu. Penerbit Daarut Tauhid. Tebal 255 halaman. Cetakan pertama 2001. ISBN-13: 978-9794332894 [25].
  • Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) [26]
  • The Power of Network Marketing - Hikmah Silaturahmi dalam Bisnis oleh Andrew Ho dan Aa Gym [27]
 Sumber : wikipedia
 

 

 

 

 
Support : Creating Website | Kang Lintas | Lintas Jabar
Copyright © 2011. BERITA JABAR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Kang Lintas
Proudly powered by Berita Bogor